Note: Artikel terakhir di tahun 2019 ini bisa menjadi bahan introspeksi kita semua dan menjadi resolusi baru untuk tahun 2020, semoga:)

Photo by sebastiaan stam from Pexels

Anda sudah dengar, lihat, baca kasus sebuah perusahaan skala besar yang gagal bayar kepada nasabahnya bukan? Sebuah perusahaan asuransi bernama Jiwasraya yang memiliki produk fix return namun pada akhirnya gagal bayar. Baca salah satu referensi beritanya disini: 12 Masalah Pemicu Gagal Bayar Jiwasraya Rp 12,4 T

Masalah Jiwasraya masalah kita juga, namun dalam hal yang berbeda…

Anda merasa perusahaan ini salah mengelola investasinya? Tentu. Tapi kami lihat ini mirip lho dengan portfolio kebanyakan orang (trader). Oke, sebelum kita lanjut, kita sepakati dulu kondisinya ini ya, sebagaimana Anda bisa baca di media – media terkini:

  • Produk investasinya memberikan fix return
  • Portfolio sahamnya berisi (beberapa) saham – saham yang sedang merugi (harga turun)
  • Tidak sedikit sahamnya yang berupa saham gorengan
  • Beberapa saham tidak bisa dijual karena tidak ada volume bahkan sudah di harga 50
  • Beberapa sahamnya ‘disekolahin

PENTING!

Kami tidak dalam kapasitas sebagai hakim, komentator, atau expert wannabe yang akan memberikan solusi ke publik. No no no.

Kami dalam artikel ini hanya sebatas sharing untuk memberikan gambaran apa yang terjadi dan apa yang kita semua bisa pelajari disini. Kami mengajak teman – teman melihat masalah ini dari sudut pandang yang umum dialami kita semua. Dengan demikian bukan lagi kita mengkritik, tapi alangkah baiknya pengalaman buruk orang lain jadi pembelajaran untuk kita semua.

Setuju? Mari kita mulai!


CASE 1: Produk investasinya memberikan fix return

Jika kita memberikan return tetap dengan aset investasi yang returnnya tidak bisa pasti, maka yang akan terjadi kemudian adalah bencana. Maksudnya baik, tapi tidak realistis.

Kita mengharapkan (atau menjanjikan) return / tahun itu 8% (misalnya). Didapat darimana?
Ini tidak mungkin didapat dari deposito kan? Deposito itu 6% gross. Gimana cara dapetin tambahan 2% lagi?
Mungkin yang paling masuk akal itu investasi langsung ke obligasi, yang aman tentu obligasi negara dengan kupon di kisaran 6% – 10%. Ini belum termasuk pajak obligasi lho, dan ketika produk investasinya jatuh tempo, tentu obligasi underlying produk investasi tersebut harus dijual dan bisa jadi harganya engga pasti, karena harga obligasi bisa naik turun sebelum jatuh tempo walaupun kuponnya selalu tetap.

  • Semua dana investor dimasukkan ke deposito, pasti rugi lah si perusahaan.
  • Semua dana investor dimasukkan ke obligasi, mungkin hanya sekedar mencapai target return 8% buat si nasabah.

Namanya perusahaan, tentu ada pertanyaan: darimana dong untung buat perusahaan? Ingat, ini adalah perusahaan, bukan proyek ‘bantu temen’ atau lembaga sosial. Lembaga sosial pun perlu profit biar bisa bayar pegawainya lho.

Alhasil, instrumen deposito maupun obligasi bukanlah pilihan untuk produk investasi for fix return ini. Masuk akal? Deposito pun fix returnnya maksimal 1 tahun. Setelah 1 tahun di roll over, belum tentu dengan return yang sama.

Berpikir investasi di sektor riil? Well itu bukan dalam prospektus produk investasinya dan tentu sangat berisiko. Bisnis riil mana bisa dijual? Dalam prospektus disebutkan investasinya salah satunya di saham. Tapi coba kita lihat saham – saham yang ada yuk:

Saham yang menjadi pilihan pertama selalu saham – saham bluechip dan mereka rutin bagi deviden (bukan berarti besar devidennya fix yah). Tapi masalahnya deviden saham bluechip itu rendah karena harga yang mahal. Dividend yield saham – saham bluechip hanya di kisaran 1% – 3%. Wah lebih jelek dari deposito dan obligasi kalau mengandalkan deviden saham bluechip. Harga saham pun bisa naik turun seperti obligasi kan?

Akar masalah nomor 1 disini adalah: FIX RETURN. Memberikan (atau berusaha mencari) fix return di atas fix return instrumen investasi. Bayangkan,dengan produk fix return 8% saja sudah membuat masalah sedemikian besar, bagaimana dengan yang menjanjikan fix return di atasnya, misalnya 12%, 15%, bahkan lebih tinggi?

Hati – hati ya, fix return yang di atas 1,5% per bulan cenderung akan menjadi investasi bodong dari awal produk tersebut dibuat.

Nah, kembali ke trader saham. Berapa banyak trader yang menargetkan sebuah return yang tinggi setiap bulan dan berakhir BONYOK? Banyak. Tidak sedikit lho trader yang menargetkan 2% sebulan, 3%, bahkan 5% per bulan dari trading saham. Hellooo, 3% sebulan itu 36% setahun. 5% sebulan itu 60% setahun. Wong level institusi besar dengan fix return 8% setahun saja ujung2nya bermasalah. Hati – hati juga ya yang berencana terjun untuk trading for a living, kalau tidak dikelola dengan benar, hidup bisa bermasalah lho.

Moral of the story: fix return di saham itu IMPOSIBLE. Kamu bisa bilang I’M POSSIBLE dalam hal lain (ini kami setuju), tapi engga di pasar saham. Hehehehe.

Note: Investasi yang digaransi pokok (modal) nya itu bisa. Kalau yang digaransi return tinggi itu hampir mustahil.


CASE 2: Portfolio sahamnya berisi saham – saham yang sedang merugi (harga turun)

Nah, ini banyak terjadi di portfolio kebanyakan trader. Isinya saham rugi bahkan rugi besar (nyangkut).

Kenapa?

Yuk balik dikit ke deposito. Return deposito itu 6% per tahun. Kalau Anda beli saham dan dalam 2 minggu naik 6% lebih, Anda bakal mikir gini ga sih: gile menarik nih, kalau deposito butuh 1 tahunan, ini 2 minggu udah kyk deposito. Kalau bisa diulang terus seperti ini, oke banget. Apalagi Anda bermental pedagang, tentu semangat sekali. 1x 2x dilakukan berhasil, namun ketika ternyata harga sahamnya rally kita sudah terlanjur jual dan tidak berani beli lagi. Ga pernah nih dagang harga melonjak begini tinggi. Ujung2nya beli lagi di harga atas, ketika ada koreksi dari titik puncak. Ga cuman para trader, ga cuman institusi, bahkan Sir Isaac Newton pun mengalami hal ini. Coba googling kisah Sir Isaac Newton pada saham South Sea Company.

Back in the spring of 1720, Sir Isaac Newton owned shares in the South Sea Company, the hottest stock in England. Sensing that the market was getting out of hand, the great physicist muttered that he ‘could calculate the motions of the heavenly bodies, but not the madness of the people.’ Newton dumped his South Sea shares, pocketing a 100% profit totaling £7,000. But just months later, swept up in the wild enthusiasm of the market, Newton jumped back in at a much higher price — and lost £20,000 (or more than $3 million in [2002-2003’s] money. For the rest of his life, he forbade anyone to speak the words ‘South Sea’ in his presence.” Dari buku: The Intelligent Investor

Jika kamu tidak terpancing membeli di harga puncak, maka kamu akan menjadi penonton dan meratapi saham – saham yang berterbangan tersebut. Sebaliknya, saham yang sudah dibeli namun tidak naik – naik bahkan harganya turun terus masih disimpan di portfolio. Semua orang pasti SUSAH untuk cutloss, baik trader perorangan maupun institusi. Karena menganggap saham itu jangka panjangnya naik, maka penurunan hanya sementara. Padahal kita bisa jadi lupa 2 hal ini:

  • Saham yang dibeli bisa jadi perusahaannya bobrok dan tidak (belum) terlihat jelek.
  • Pasar saham (IHSG) selalu naik memang tapi tidak semua saham naik. Kalau ekonomi Indonesia terus tumbuh kenapa kok ada perusahaan (& bisnis) yang bangkrut sih?

Moral of the story: kita menjual saham yang sudah naik untuk mengejar target return bulanan kita, tapi lupa risk management ketat untuk yang gagal naik. Akhir ya 90% saham di portfolio merah membara. Ditambah adanya DEADLINE pembayaran menjadikan portfolio kita dalam masalah besar.

Simak penjelasan mengenai CASE 2 ini pada artikel kami: Portfolio Zombie.


CASE 3: Tidak sedikit sahamnya yang berupa saham gorengan

Waktu terus berjalan, bumi terus berputar, matahari terus terbit dari timur setiap hari. Semakin hari portfolio zombie semakin memerah, kita perlu putar otak bagaimana mengatasi masalah yang sudah terjadi ini. Suami / istri kalau tanya: gimana duit saham loe, gue harus jawab apa? Nasabah kalau tanya: mana return bulan ini, manajemen harus jawab apa? Mirip bukan?

Apalagi ini duit 1 tahun lagi harus dipake bayar uang pangkal anak sekolah. Duit ini 2 tahun lagi bakal untuk anak kuliah. Lebih parah lagi: duit ini 5 tahun lagi buat pensiun gue. Semakin ada deadline, semakin panik lah kita apalagi ‘shit is happening’, portfolio semakin tiarap.

  • Solusi ga mungkin kembali ke deposito yang 6% fix setahun
  • Solusi ga mungkin kembali ke obligasi yang 6% – 10% per tahun.
  • Lah wong unrealized loss udah (misalnya) 30% dan waktu hanya tinggal 1 tahun, gimana caranya balikin?

Aha, ada lho saham yang dalam 1 bulan bisa naik berkali2 lipat. Kenapa ga coba yang satu ini? There is a will, there is a way. Ada saham gorengan. Sizenya kecil, kalau pakai uang yang ga terlalu banyak, bisa naik nih harganya.

Kamu tau ga saham gorengan itu apa? Coba baca artikel ini:

Intinya ya seperti gorengan, ga bergizi tapi enak dan dicari orang. Hehe

Yuk coba kita lihat salah satu contoh saham gorengan yang ada di portfolio institusi ini: XXXX (sahamnya dirahasiakan ya)

  • Dulu harganya 400
  • Kapitalisasi pasarnya di harga 400 itu sebesar 2 triliun
  • Saham beredar di publik ada 15%, artinya 2 triliun x 15% = 300 miliar secara value agregat di pasar. Sisanya milik pengendali perusahaan.

Pihak yang punya dana 50 miliar artinya bisa menguasai 16% saham beredar di publik (50 M / 300 M) dan bisa menggerakkan harga jika melakukan pembelian yang massive.

Apalagi likuiditas & bid offer saham ini sangat tipis. Mudah sekali menaikkan harga. Dengan uang 5 miliar bisa menaikkan harga sangat drastis karena offernya tipis sekali.

Nah, pada akhir ya dipilihlah beberapa saham yang kriterianya seperti di atas, dibungkus dalam portfolio.

Jika portfolio sebelumnya sudah rugi 30%, maka dengan harga saham gorengan yang naik 100% dengan porsi gorengan dalam portfolio mencapai 30% (0,3) akan membuat total portfolio mengalami kenaikan sebesar 100% x 0,3 = 30% dan menutup segala kerugian masa lalu.

Eitsss, ini semua hanya rencana ya. Tuhan yang menentukan.

Anda pernah berpikir melakukan hal ini? Membeli saham gorengan untuk menutup luka masa lalu? Tidak sedikit portfolio para trader berisi saham rugi dan gorengan demi mencari untung instan yang kebanyakan karena ingin menutup kesalahan trading masa lalu, malah terjebak ke lubang yang lebih besar.

Masalahnya kemudian: dalam jumlah uang yang besar, kalau mau dijual untuk pencairan dana, gimana cara jualnya? Engga bisa. Mau ga mau dijual di harga BID berapapun. Sama seperti portfolio Anda harus dijual segera karena harus bayar uang sekolah anak, kuliah anak, liburan keluarga, bahkan membiayai rumah sakit hingga kebutuhan bulanan pensiun. “Aduh, bulan depan kayaknya bisa naik. Eits, bulan depan udah harus bayar tagihan.”

Moral of the story: saham gorengan itu renyah tapi tidak sehat. Uang Anda uang berharga, jangan dibelikan gorengan. Nikmati dengan makan ketoprak, nasi uduk, sushi, atau steak. Jangan dibelikan gorengan lah.


CASE 4: Beberapa saham tidak bisa dijual karena tidak ada volume bahkan sudah di harga 50

Ini adalah efek akibat CASE 3 di atas sebelumnya. Karena banyak (di pasar, dengan alasan apapun yang kita tidak tahu) yang menjual saham tidak likuid karena DEADLINE, dan tentunya tidak ada underlying fundamental dari saham tersebut, tidak ada pertumbuhan laba, tidak ada deviden yang dibagikan, dan lain lain, maka semakin banyak yang menjual karena DEADLINE, harga menjadi 50 dan trader terjebak disana. Jika bursa tidak membatasi harga minimal 50, jelas harga saham sudah mencapai 1 rupiah.

Moral of the story: jangan menyentuh saham gorengan dan saham di harga 50. Saham ini sudah kehilangan kepercayaan publik dan tidak memiliki fundamental bagus.


CASE 5: Beberapa sahamnya ‘disekolahin’

Photo by Martin Lopez from Pexels

Yaa, ini kami ga bisa bahas karena kompleks. Bayangin aja begini: kamu sudah punya portfolio zombie nan amburadul, kamu suruh temanmu kelola deh sampe balik modal. Gue udah cape urusnya.

SUMMARY

Hal di atas kami sampaikan dalam opini pribadi kami melihat berbagai hal yang mungkin terjadi di pasar. Kami tidak menyatakan sikap pro / kontra atas masalah yang sedang terjadi. Kami hanya mengajak Anda untuk melihat dari sisi kita sebagai trader saham. Hal di atas tidak hanya dialami segelintir orang tapi cukup banyak trader di pasar. Mulailah sesuatu dengan positif: optimis namun realistis.

Harapan yang tidak realistis yang menjerumuskan kita ke dalam masalah yang tidak seharusnya terjadi.

Langkah yang emosional menjadikan kita semakin jauh dari langkah yang benar sehingga asal – asalan beli dan mudah percaya dengan iming – iming yang (ingin) kita dengar.

Seperti kata Warren Buffett: “if you buy things you dont need, soon you will have to sell thing you need”. Jika portfolio anda isinya saham gocap, ketika deadline tiba, mungkin Anda harus menjual rumah Anda satu – satunya.

Well, begitulah moral of the story yang bisa kita pelajari dari kesalahan – kesalahan orang agar tidak terjebak dalam lubang yang sama. Jadikan hal ini pembelajaran bagi kita semua untuk bertanggung jawab atas dana kita yang sudah kita dapatkan dengan susah payah, penuh keringat, dan berdarah – darah dalam usaha. 

Akhir kata, mari kita semua berharap agar masalah – masalah yang sedang terjadi ini bisa mendapatkan solusi terbaik bagi para investor (nasabah) dan perusahaan tentunya:)

Mari kita menutup tahun 2019 dengan segala pencapaian kita baik positif maupun negatif dan memasuki tahun 2020 dengan lebih bijaksana, berilmu, dan positif. Simak juga Outlook IHSG 2020 disini ya.

Happy New year 2020!

Free Newsletter

Segera daftarkan email anda ke mailing list kami untuk memperoleh informasi & rekomendasi saham terbaru via email setiap hari secara gratis (tanpa syarat apapun)

Pendaftaran berhasil - Cek email anda untuk proses verifikasi