Salah satu strategi meraih keuntungan di pasar modal Indonesia adalah investasi saham jangka panjang dengan konsisten. Istilah kekiniannya: Nabung Saham.

Kebanyakan orang masuk ke pasar saham untuk melanjukan transaksi jual beli demi mendapatkan capital gain. Beberapa orang berinvestasi dengan cara membeli saham perusahaan yang dianggapnya bagus, dan disimpan dalam waktu yang lama.

Nabung saham menitikberatkan opsi kedua, yakni membeli saham perusahaan (emiten) bagus untuk disimpan jangka panjang. Tujuannya tentu untuk meningkatkan aset secara optimal. Coba tebak, hari ini (september 2018) sebuah saham perbankan berada di harga Rp. 25.000,-. Kalau kita sudah simpan saham ini, katakan 10 tahun yang lalu, sudah untung berapa? Kita perlu tahu, 10 tahun yang lalu, harga saham BBCA ada di level Rp. 3.000,-!!!. Ini berarti uang 30 Juta menjadi 250 juta. Uang 300 Juta menjadi 2.5 miliar. Tahu perusahaan apa ini?

Pertanyaannya, bagaimana strategi investasinnya? Bagaimana investment plan-nya? Apakah beli dalam jumlah banyak di awal, 1x beli saja? Atau beli menunggu pasar crash? Kalau pasar bergerak naik, apakah harus beli segera? Atau menunggu waktu yang lebih ideal?

Pertanyaan ini pasti sering melintas di kepala Anda, walaupun Anda bukan untuk investasi saham namun sekedar trading saham, pertanyaan di atas selalu muncul dan jelas sulit sekali dijawab bukan?

Idealnya sih, ketika harga turun ke (masih di) Rp. 3000,- belilah saham ini sebanyak – banyaknya. Kalau bisa sampai gadaikan rumah, mobil, motor. Tapi, bagaimana ketika waktu itu dana kita masih terbatas, rumah pun belum punya untuk digadaikan? Pendapatan Anda Rp. 10.000.000,-, bisa disisihkan Rp. 2.000.000,-. Bagaimana caranya ketika harga saham di Rp. 3.000,- dibelikan 100 juta (tabungan pun kurang)?

Oh iya, pastikan Anda sudah punya rekening saham ya. Simak panduannya dibawah ini:

Membuka Rekening Saham

Oke, lanjut! Setiap orang punya kondisi keuangan yang unik pada setiap kesempatan. Tentu investasi pun perlu ada kompromi. Komprominya didasarkan pada kondisi berikut:

  1. Tidak setiap kesempatan datang, dana kita tersedia.
  2. Kita pada umumnya tidak akan berani mengambil risiko terlalu besar membeli saham sebuah perusahaan dalam jumlah yang sangat besar untuk ukuran keuangan kita.
  3. Kita tidak bisa menebak harga terendah sebuah saham untuk dibeli sebanyak – banyaknya.
  4. Kita tidak bisa berharap bahwa harga tidak akan kemana – mana ketika kita belum sempat membeli sahamnya.
  5. Harga saham tidak akan menunggu.

Jadi, kompromi terbaik dalam melakukan investasi saham jangka panjang adalah nabung saham. Keep it simple: Mulailah sesuai dengan proporsi pendapatan Anda, lakukan dengan rutin, tidak peduli harganya di berapa, selama perusahaan tersebut berkinerja positif (kinerja bisnis ya, bukan kinerja harga saham: lihat artikel kami: investasi saham), maka kita bisa beli terus menerus setiap bulan setiap tanggal gajian selayaknya kita membayar cicilan rumah kita, mobil kita, atau apapun itu. Nabung saham bagai punya cicilan, cicilan masa depan cerah Anda.

The power of everything is consistency

Ah, harga sekarang sudah mahal sekali (Rp. 25.000,-). Percayalah, tidak ada kata mahal jika perusahaan terus berkinerja positif. Dulu (Rp. 3.000,-) terlihat murah sekarang, tapi percayalah, ketika di harga Rp.3.000,- waktu itu juga terasa mahal, karena 8 tahun sebelumnya di harga Rp. 170,-.

Jadi, ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk menjalani nabung saham:

  1. Anda harus I.N.G.A.T bahwa harga saham berfluktuatif dalam jangka pendek, namun selama performa perusahaannya bagus, dalam jangka panjang cenderung akan bertumbuh (lihat poin nomor 5 di bawah). Anda harus tetap disiplin terlepas harga pasar naik ataupun turun. Ini kuncinya ya.
  2. Tentukan dahulu, anda akan menyisihkan berapa % dari income bulanan Anda. Minimal 10%. Idealnya 20 – 30% seperti Anda sedang mencicil properti.
  3. Pastikan, ketika income Anda naik, persentase penyisihannya tetap sama (misalnya 20% dari income), dengan demikian Anda akan membeli saham lebih banyak dari waktu ke waktu
  4. Tentukan tanggal tetap Anda akan membeli sahamnya, apakah tanggal gajian Anda, atau tanggal berapapun. Pastikan beli hanya di tanggal tersebut.
  5. Pastikan nabung saham perusahaan yang: a) Laporan keuangannya selalu positif, mencetak laba dalam (minimal) 5 tahun terakhir, b) selalu mengalami pertumbuhan laba yang konsisten dari waktu ke waktu, c) market leader di industrinya.
  6. Idealnya, tabunglah saham yang rutin membagikan deviden. Jadi Anda tidak perlu menjual saham Anda untuk menikmati hasil investasi Anda yang terus berkembang.
  7. Cek harga pasar sahamnya sekarang. Pembelian saham minimal adalah 1 lot (100 lembar saham) dan berlaku kelipatannya. Jika harga pasar sahamnya di Rp. 17.000,- maka minimal pembelian adalah Rp. 17.000,- X 100 lembar = Rp. 1.700.000,-. Jika jumlah yang ingin Anda tabung per bulan adalah Rp. 1.000.000,-, maka membeli saham tersebut tidak memungkinkan. Anda bisa perbesar alokasi bulanan Anda untuk dapat membeli saham tersebut, atau pilih saham lain yang sesuai dengan kriteria poin nomot 5 di atas.
  8. Belilah saham yang sama dengan konsisten. Jangan diganti – ganti.
  9. Lakukan dengan disiplin, baik ketika market naik, maupun turun.

Ingat selalu: The power of everything is consistency

Jika hal ini dijalankan dengan konsisten, seiring dengan kenaikan pendapatan, nabung saham Anda juga meningkat, harga saham bertumbuh, Anda akan mendapatkan pertumbuhan aset yang luar biasa.

Eits, jangan lupa, ini belum termasuk deviden yang dibagikan per tahun kalau perusahaannya rutin membagikan deviden lho.

Yuk simak video penjelasan dan ilustrasinya disini untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai betapa menariknya Nabung Saham dalam jangka menengah & panjang.

Free Newsletter

Segera daftarkan email anda ke mailing list kami untuk memperoleh informasi & rekomendasi saham terbaru via email setiap hari secara gratis (tanpa syarat apapun)

Pendaftaran berhasil - Cek email anda untuk proses verifikasi