Catatan Perjalanan Dari Shanghai International Finance & Money Fair 2012

Akhirnya selesai juga tulisan ini dibuat. Janji kami untuk sharing terpenuhi juga:) Pada tanggal 22 – 26 November 2012 kami berkesempatan untuk mengunjungi 10th Shanghai International Finance & Money Fair 2012 yang diadakan 3 hari dari Jumat 23 November 2012 hingga minggu 25 November 2012. Pada kesempatan ini kami ingin sharing pengalaman dan hal – hal yang kami dapat selama mengunjungi acara di sana yang mungkin belum tentu kami dapatkan di Indonesia. Kesan pertama: RAMAI SEKALI. Dengan keramaian ini jelas sangat menghangatkan badan setelah diterjang suhu musim dingin yang mencapai 7 derajat celcius:) Sekali – kalinya kami mengunjungi pameran yang hampir seramai ini adalah pameran tahunan Indonesia International Motor Show (IIMS) dan Pekan Raya Jakarta, itu pun bukan pameran finansial lhoo. Jumlah peserta pameran luar biasa banyak dan pengunjungnya lebih luar biasa lagi. Kami sampai tersesat untuk sekedar kembali ke stan yang sebelumnya kami hampiri ataupun berjuang menemukan jalan keluar untuk pulang. Hehehe. Peserta pameran terbagi dari perusahaan sekuritas, futures, asset management, perbankan, serta asuransi. Sebagian besar merupakan brand lokal disana tapi cukup banyak brand global yang berpartisipasi. (Dapat anda lihat beberapa di foto – foto kami) Eh ternyata ada satu perusahaan sekuritas dari indonesia yang berpartisipasi lho, coba tebak apa:D Dari hasil pengamatan kami (kami dibantu oleh guide yang bisa berbahasa Indonesia), seiring terus meningkatnya kemakmuran, masyarakat terus mencari peluang untuk mengembangkan dananya di pasar keuangan. Selain di pasar saham, mereka juga bersemangat untuk menempatkan dana di pasar lainnya karena seperti yang kita ketahui pasar saham Shanghai sedang berkonsolidasi berat pasca krisis 2008. Dengan demikian dana mereka mengalir ke pasar lain yang lebih memiliki peluang seperti forex, komoditas, atau bahkan pasar luar negeri melalui reksadana, dll. Kemakmuran meningkat > Investasi Meningkat. Secara general kami berbicara pada beberapa orang yang kami temui (di pameran maupun di tempat lainnya), mereka tidak sepesimis bursa Shanghai yang sedang lesu. Ekonomi China terus berkembang, penjualan terus meningkat, hingga petani pun menjadi kaya raya, toko – toko tetap ramai pengunjung, gedung – gedung tinggi terus dibangun, bahkan ada bangunan tertinggi baru yang sedang tahap pembangunan. Tapi memang pertumbuhan ekonominya melambat saja karena bagian dari kebijakan pemerintah agar tidak overheat. Pariwisata terus berkembang, penjualan barang mewah pun terus meningkat. Penjualan mobil pun kerap mencetak rekor walau perijinan kepemilikan kendaran bisa melampaui harga mobil yang dibelinya. Jika Jakarta dikuasai Toyota & Daihatsu, maka di Shanghai dikuasai Audi & VW. Kita bisa melihat Audi & VW berkeliaran seperti kita melihat Avanza & Xenia di sini. Daya beli mereka telah jauh melampaui masyarakat Indonesia yang baru mulai merangkak naik. INGAT, jumlah penduduk yang banyak diiringi daya beli yang tinggi (+semangat kerja yang tinggi) jauh lebih berharga daripada nilai sebuah barang komoditas alam. Penduduk yang makmur menjadi motor perekonomian suatu negara! Kami yakin Indonesia pun mengarah kesana Bangunan tengah adalah Shanghai World Financial Center (Tertinggi di China saat ini) dan sebelah kiri akan lebih tinggi lagi dari SWFC. Mereka terus membangun, tanda perekonomian terus bertumbuh, amazing! Pameran seramai ini, seberapa banyak kah jumlah investor di China? Bagaimana perbandingan jumlah investor di Indonesia dengan China serta negara lainnya? Jumlah investor di bursa Indonesia sangat jauh tertinggal dari bursa saham negara-negara lain di kawasan. Berikut ini perbandingan jumlah investor saham dan persentase dari total populasi penduduk negara. Indonesia 400 ribu (0,16%) China 26,7 juta (2%) India 24 juta (2,02%) Thailand 2,4 juta (3,6%) Pakistan  5,2 juta (2,78%) Jepang 14,02 juta (11%) Hong Kong 1,13 juta (15,9%) Malaysia 5,1 juta (17,4%) Singapura 1,6 juta (30.5%). Wah, negara berkembang di atas rata – rata memiliki investor saham sebesar 2.5% dari jumlah penduduk. Jika Indonesia memiliki persentasi yang sama yakni 2.5%, maka jumlah investor...

read more

Pengaruh Rangkaian Krisis Eropa Terhadap Indonesia

Pengaruh Rangkaian Krisis Eropa Terhadap Indonesia Dilihat Dari Credit Default Swap (CDS) Krisis utang di kawasan Uni Eropa terus bergejolak dan mengakibatkan ketidakpastian di pasar global. Berbagai solusi yang diajukan masih banyak menimbulkan pertanyaan, apakah masalah akan dapat diselesaikan dengan baik ataukah memunculkan krisis yang lebih besar lagi. Lima negara Eropa yang disingkat PIIGS (Portugal, Italy, Ireland, Greece, Spain) saat ini menjadi sorotan utama karena merupakan negara dengan rasio hutang tertinggi dan dikhawatirkan dapat menciptakan efek domino negatif terhadap keseimbangan ekonomi global jika masalah tidak cepat diatasi. Dalam perkembangan ini, kami mencoba menganalisa hubungan antara krisis Zona Eropa saat ini dengan pasar modal Indonesia terkait dengan pergerakan CDS Surat Utang Pemerintah Negara bersangkutan. Seperti yang kita ketahui, CDS adalah Credit Default Swap, Sebuah instrumen proteksi terhadap surat utang yang dibeli. Pihak pembeli surat utang akan membeli CDS untuk memproteksi surat utang yang dibelinya dari risiko gagal bayar / default. Semakin tinggi nilai CDS menunjukkan semakin tinggi permintaan atas CDS bersangkutan. Hal ini menunjukkan semakin banyak pihak yang berekspektasi surat utang tersebut memiliki potensi lebih besar untuk mengalami gagal bayar. Akankah pasar modal Indonesia terseret, ataukah hanya mengalami koreksi sesaat setelah naik cukup tajam? Berikut kami sajikan grafik perbandingan pergerakan CDS dari 5 negara bermasalah di Eropa (PIIGS) termasuk CDS Indonesia (Desember 2007 – 12 Juli 2011): CDS Portugal CDS Italia   CDS Irlandia   CDS Yunani   CDS Spanyol   CDS Indonesia Grafik CDS dari Negara PIIGS menunjukan bahwa nilai CDS kelima negara tersebut terus naik lebih tinggi melebihi nilai ketika terjadi krisis global tahun 2008. Dapat disimpulkan surat utang pemerintah dari kelima negara ini dipandang memiliki risiko gagal bayar yang semakin meningkat. Koreksi yang dialami pasar Eropa beberapa hari terakhir ini turut menyeret bursa global termasuk IHSG. Akankah Indonesia terseret lebih dalam? Perhatikan CDS Indonesia pada grafik di atas, setelah sempat menyentuh level 1256.7 ketika terjadi krisis global tahun 2008, saat ini CDS Indonesia berada di level rendah di 140.53 dan cenderung stabil. Hal ini berbanding terbalik dari CDS PIIGS yang terus menanjak naik. Jika masalah PIIGS ini dikhawatirkan akan berdampak negatif, maka CDS Indonesia sudah selayaknya bergerak naik seperti ketika terjadi krisis global 2008. Kemampuan CDS Indonesia bertahan di level rendah menunjukkan investor tidak melihat adanya peningkatan risiko pada Surat Utang Pemerintah Indonesia serta perekonomian dalam cakupan yang lebih luas. Jika tingkat kepercayaan investor (ditunjukkan oleh CDS) tetap terjaga baik, maka koreksi yang terjadi beberapa hari terakhir ini merupakan koreksi sehat setelah IHSG naik cukup tinggi dan mencatatkan rekor tertingginya di level...

read more

14 Hal Yang ‘Mungkin’ Terjadi Jika Yunani Default…

Berikut kami sampaikan rangkuman pendapat beberapa ahli mengenai dampak yang akan (mungkin) terjadi jika Yunani default. Artikel ini kami ambil dari www.cnbc.com. Semoga dapat membuka gambaran bagi kita semua mengenai kekisruhan & Kekhawatiran yang terjadi saat ini. Mohon maaf hanya dalam versi Bahasa Inggris saja. Semoga Bermanfaat…   What Happens If Greece Defaults? If Greece defaults on its sovereign debt, the effects will be global. Everyone from Japanese savers to U.S. retirees is likely to feel the effects. Let’s run through the dominos that could fall after a Greek default. By John Carney Posted 16 June 2011 Greek Banks Get Nationalized The banks of Greece are heavily exposed to the sovereign debt of their country. A default would require many of them to seek new capital to make up for the losses, and could trigger a run on banks by Greek depositors. It’s very likely that the Greek government would be forced to declare a “bank holiday” to prevent a run. Eventually, the most exposed Greek banks would likely have to be nationalized.   Europe’s Banks Rocked Europe’s banks are big holders of Greek debt. They have something like $53 billion outstanding. France, Germany and the U.K. are the most exposed. “If bondholders were required to take a 40 percent ‘haircut’—a figure thrown up by many analysts—this would translate to losses in the order of €15.6 billion,” or $22 billion, according to one report.   Credit Default Swap Guessing Game It’s unknown what the exposure of various financial institutions to a Greek default through credit default swaps might be. But someone has been selling lots of protection on Greek debt over the last few years, and a default would trigger a “credit event” payout on these insurance contracts.   A Global Credit Crunch Doubts about the stability of financial institutions with direct and indirect exposure to Greece are likely to spread. Banks may hesitate to extend credit to each other out of fear about exposures. Many will require counter-parties to hand over additional collateral, forcing assets sales. In a repeat of the aftermath of the bankruptcy of Lehman Brothers, global credit markets may seize up. Get ready to hear lots of talk about LIBOR spreads again.   U.S. Money-Market Funds Challenged Analysts say that U.S. money-market funds have more exposure to the short-term debt of European banks than many investors realize. If European banks cannot roll over their commercial paper, some of these money-market funds may find they have capital shortfalls.   Ireland And Portugal Tempted to “Just Walk Away” The Irish and the Portuguese are facing years of slow economic growth as their governments attempts to bring down debt levels and stabilize their banking systems. A default by Greece—especially if brought about by a popular uprising in the streets of Athens—could encourage these countries to default. If Greece can force creditors to take a haircut, why should Ireland and Portugal pay in full?   The European Central Bank in Crisis The European Central Bank is massively exposed not only to Greek sovereign debt but to the debt of Irish banks. If Greece and Ireland’s banks do not make good on their debts, the ECB could be rendered insolvent, according to some analysts. Of course, the ECB is a central bank—which means it can always inflate its way back into solvency.   A Political Crisis in Germany The turmoil across Europe may shake the government in Germany. The German people strongly oppose bailouts of what they view as less responsible countries. Any moves by the German government to alleviate the crisis caused by Greece could be met with a...

read more

Download: Economic Outlook 2011 By Schroders

Dear All, Bagi teman – teman yang ingin mendapatkan bahan presentasi Market Outlook 2011 yang sempat diadakan di BEJ 4 Desember 2010 dapat mendownload di kolom DOWNLOAD CENTER (BoxNet) di sebelah kanan bawah GaleriSaham.com …Krisis Amerika Dan Eropa diperkirakan terus berlanjut hingga 2011 dan pertumbuhan ekonomi paling besar berada di kawasan negara berkembang termasuk Indonesia di dalamnya. Ekonomi Indonesia masih menjanjikan pertumbuhan yang tinggi dimana pada tahun 2011 pertumbuhan GDP akan lebih tinggi daripada 2010 walaupun dibayangi inflasi yang meningkat… Silahkan mendownload materi Economic Outlook 2011 pada kolom DOWNLOAD CENTER untuk informasi lebih lengkap. Terima kasih, semoga bermanfaat. NO. KODE EMITEN SAHAM BEREDAR HARGA NILAI KAPITALISASI PORSI...

read more

Skema Utang Piutang Negara – Negara Eropa

Source: www.falconprivatebank.com Jika dianggap Yunani sangat bermasalah, bagaimana dengan negara Eropa lainnya di atas ini? Semoga solusi cepat ditemukan. Klik gambar untuk memperbesar.

read more

Pin It on Pinterest