Setiap penghujung tahun kita selalu mendengar istilah window dressing. Apa itu window dressing?

Window dressing adalah sebuah fenomena aktivitas di pasar yang cenderung bertujuan untuk memperbaiki kinerja portfolio, transaksi, atau apapun berkaitan dengan performa para pelaku pasar.

Berasal dari 2 kata: window dan dressing. Window disini artinya jendela, dimana setiap orang bisa melihat isi rumah (portfolio) dan dressing, artinya perbaikan, aktivitas mempercantik sehingga rumah tersebut (portfolio) tampak lebih baik dari sebelumnya.

window dressing saham

Eits, jangan dikonotasikan negatif bahwa window dressing itu tipu – tipuan ya. Siapa sih yang ga ingin rumahnya terlihat indah di akhir tahun, dan jadi pemberi semangat di awal tahun besoknya?

Berdasarkan pengalaman kami dari sejak tahun 2004 dan sebagai profesional di pasar modal, beberapa aktivitas yang menjadi pendorong naiknya IHSG (karena saham – saham yang naik) antara lain:

  1. Mengurangi saham – saham jelek dan mengalokasikan ke saham – saham perusahaan lebih baik seperti saham – saham bluechip.
  2. Outlook yang lebih baik di tahun depan menjadikan beberapa perusahaan lebih menjanjikan daripada di tahun berjalan ini, maka minat investor terhadap saham perusahaan tersebut meningkat dan tentu menjadikan harga naik.
  3. Menghabiskan anggaran / dana. Bisa jadi beberapa pengelola dana maupun investor melakukan wait & see di tahun berjalan entah karena alasan apapun (ketidakpastian, dll). Namun karena dana mereka masih tersisa, ya, sama seperti anggaran – anggaran seperti yang kita tahu harus ‘dihabiskan’, maka mereka akan mulai membeli saham untuk mengisi portfolio sehingga mencapai komposisi ideal kembali.
  4. Suntikan dana baru dari investor ke reksadana, discretionary account, dan sebagainya menjadikan dana tersebut harus dibelikan saham yang menjanjikan di tahun depan. Berkaitan dengan poin nomor 2 di atas, maka para fund manager membeli selektif saham – saham tersebut.

Hal ini menjadikan IHSG cenderung naik di akhir tahun berjalan. Namun tidak bisa dipastikan yah, apakah naiknya dari awal bulan Desember, pertengahan November, atau bahkan minggu – minggu terakhir bulan Desember seperti yang terjadi di tahun 2016.

Eits, kadang window dressing itu tidak sefantastis yang diharapkan lho. Maksudnya, kadang window dressing tidak menjadikan pasar saham bergairah, bahkan kenaikan IHSG gitu – gitu saja. Kok bisa?

Tentu bisa. Misalnya, jika sepanjang tahun pasar saham sudah bergerak bullish, kadang kala window dressing tidak sebegitu menarik yang diharapkan. Kenapa? Ada beberapa faktor seperti:

  1. Outlook tahun depan tidak begitu menjanjikan
  2. Target tahunan sudah tercapai sehingga tidak ada yang perlu dikejar oleh para investor maupun fund manager,
  3. atau terjadi redemption di akhir tahun.

Well, itu kira – kira yang bisa kami sampaikan seputar window dressing. Ingat, perhatikan saham – per saham ya dalam melakukan pembelian. Jangan karena pede IHSG naik, Anda asal beli semua saham. Tidak semua saham naik ketika IHSG naik. Objektif, jangan subjektif. Analisa, jangan pakai feeling

Free Newsletter

Segera daftarkan email anda ke mailing list kami untuk memperoleh informasi & rekomendasi saham terbaru via email setiap hari secara gratis (tanpa syarat apapun)

Pendaftaran berhasil - Cek email anda untuk proses verifikasi