Artikel ini ditujukan bagi member GaleriSahamPREMIUM, dirilis pada 27 Februari 2012.

­Beberapa kebijakan pemerintah dan perkembangan bursa komoditi global akhir – akhir ini menjadi faktor – faktor yang mempengaruhi bursa saham Indonesia dengan signifikan. Kebijakan BI menurunkan tingkat suku bunga dari 6.00% menjadi 5.75% menyebabkan penurunan saham perbankan cukup dalam. Sebagai sektor industri berkapitalisasi terbesar, penurunan sektor perbankan sempat menyeret IHSG ke level yang lebih rendah. Belum reda tekanan jual pada sektor perbankan, rencana kenaikan BBM bersubsidi hingga sebesar Rp.1500 per liter semakin menekan bursa saham yang pada kesempatan sebelumnya berpeluang untuk Rally kembali ke level All Time High. Hal ini didorong oleh kekhawatiran akan menurunnya daya beli masyarakat dan lonjakan inflasi.

Apakah peluang rally IHSG tetap terbuka? Di sisi lain apakah level All Time High sebelum krisis 2008 di kisaran USD 147 kembali tercapai? Akankah kenaikan BBM menggerus potensi pertumbuhan perekonomian yang lebih baik di Indonesia? Akankah kenaikan BBM melemahkan daya beli masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi yang 80% didorong oleh konsumsi dalam negeri ini melambat?

Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas, mari kita flashback ke tahun 2005, dimana ketika itu harga BBM bersubsidi naik hampir 2x lipat menjadi Rp. 4.500. Pasca kenaikan BBM tersebut, IHSG sempat mengalami koreksi cukup dalam tetapi perekonomian Indonesia ternyata tidak terlalu mendapat pengaruh negatif bahkan terus tumbuh signifikan. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa data menarik di bawah ini:

 

 

GDP & GDP Per Kapita

Indikator - GDP Per Kapita

GDP Indonesia tampak terus mengalami pertumbuhan, dengan GDP per Kapita di tahun 2005 sebesar USD  1300 melonjak 2x lipat lebih menjadi USD 3000 di tahun 2010. Tahun 2011 kemarin GDP Per Kapita mencapai level USD 3600! Dengan kontribusi konsumsi dalam negeri yang mendominasi perekonomian, dapat disimpulkan bahwa daya beli masyarakan terus tumbuh. GDP per kapita Indonesia pada tahun 2005 berada pada kisaran USD 1300 dengan kenaikan BBM sebesar hampir 100%, Saat ini GDP per kapita yang mencapai USD 3600 menunjukkan dengan kenaikan daya beli yang sangat signifikan. Dengan demikian jika BBM dikonfirmasikan naik sebesar 33% diperkirakan hanya akan memberikan guncangan sesaat terhadap daya beli.

 

Pertumbuhan Lapangan Kerja & Tingkat Pengangguran

Indikator - Job Creation Indo

Kenaikan BBM pada tahun 2005 sempat mengakibatkan penurunan pertumbuhan lapangan pekerjaan (Lapangan kerja baru tetap tumbuh walau ada sedikit perlambatan) tetapi hal ini tetap kami tidak mengkhawatirkan dimana tingkat pengangguran cenderung mengalami penurunan secara konsisten dari >11% di tahun 2005 turun ke <7% pada tahun 2011. Kenaikan BBM di tahun 2005 tidak mengakibatkan resesi, malah sebaliknya lapangan kerja terus meningkat dan perekonomian terus mengalami pertumbuhan.

 

Peringkat Utang

Indikator - Debt Rating Indo

Menaikkan BBM Bersubsidi berarti mengurangi beban anggaran pemerintah. Hal ini menjadikan anggaran pemerintah semakin sehat sehingga penyaluran dana ke proyek – proyek yang bersifat ekonomis & produktif semakin besar (Pendapatan naik, beban turun. Alhasil peringkat utang Indonesia  mendapat respon positif dari 2 lembaga pemeringkat yakni Fitch Rating dan Moody’s dengan kenaikan peringkat secara konsisten kembali ke level Investment Grade.

 

Kinerja Perbankan

Indikator - Kinerja Perbankan

Kinerja Perbankan sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia sejak tahun 2002 hingga 2010 menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Kenaikan harga BBM yang hampir mencapai 100% di tahun 2005 tidak mempengaruhi penyaluran kredit perbankan menjadi negatif. Dari tahun 2002 hingga 2010 total kredit perbankan terus tumbuh positif. Bahkan sepanjang tahun 2005 – 2006 paska kenaikan BBM tidak terjadi penurunan sama sekali. Pada tahun 2005 total kredit tumbuh sebesar +24% dan pada tahun 2006 tumbuh sebesar +13%.

 

Kesimpulan Fundamental:

Dari beberapa indikator di atas yakni: 1. Pertumbuhan GDP & GDP Per Kapita, 2. Pertumbuhan lapangan pekerjaan & tingkat pengangguran, 3. Credit Rating, serta 4. penyaluran kredit perbankan, tampak bahwa kenaikan BBM tidak memberi pengaruh negatif terhadap perekonomian dalam jangka menengah dan panjang walau dalam jangka pendek memungkinkan terjadinya pelemahan pertumbuhan sesaat. Melihat kondisi demikian, manfaatkan peluang penurunan pada IHSG sementara ini untuk menyeleksi saham – saham potensial yang selanjutnya berpeluang mencetak kinerja yang cemerlang.

Coba anda pertimbangkan, BBM naik 100% ketika GDP per kapita berada di level USD 1300 tidak menyebabkan perekonomian berkontraksi. Apakah dengan kenaikan BBM 33% ketika GDP per kapita telah mencapai USD 3600 akan lebih mengkhawatirkan?

 

Baca Report selanjutnya: SPECIAL REPORT: Global Market Technical Perspective (Part 2 of 4)

 

Mari bergabung di GaleriSahamPREMIUM untuk membantu anda mengidentifikasi peluang, memaksimalkan keuntungan, dan meminimalisir risiko.

Bagi non-member GaleriSahamPREMIUM, pastikan anda selalu mengikuti perkembangan rekomendasi GaleriSaham.com. Segera daftarkan email anda ke Mailing List kami untuk memastikan anda menerima update terbaru kami. Kirimkan email kosong ke alamat berikut: galerisaham-subscribe@yahoogroups.com dan cek inbox anda untuk konfirmasi.

Ingat selalu, Selalu terdapat peluang dalam krisis. Bersikap konsisten terhadap trading plan akan membawa anda kepada peluang dan keberuntungan. Have a nice trading day!