Faisal Basri: Ekonomi Indonesia Tidak “Bubble”

Berikut ulasan dari Faisal Basri mengenai kondisi ekonomi Indonesia serta pengaruh dari Global.

Ada satu hal yang menggelitik dan kami rasa banyak yang mengalaminya, berikut kutipannya: “Namun, kata dia, sangat disayangkan bahwa positifnya pasar modal Indonesia saat ini, sebanyak 70 persen dinikmati pelaku asing. “Masalahnya adalah penikmat-penikmat membaiknya saham di Indonesia, 70 persen adalah orang asing karena investor domestiknya ditakut-takuti isu bubble,” ujar dia.”

Banyak di antara kita yang menjual saham menghindari dampak krisis global (Eropa), nyatanya harga saham naik terus dan kerap mencatat rekor baru terus menerus. Mengapa? Karena Investor Ritel umumnya belum mandiri dan ada unsur ikut – ikutan, sehingga yang diikuti adalah pemberitaan adanya potensi Bubble, harga yang terlalu tinggi, potensi crash, dan sebagainya SERTA tidak memiliki TRADING PLAN yang jelas. Banyak yang menunggu harga turun dan ‘memohon’ terjadi crash, tetapi sangat tidak objektif untuk mengharapkan crash di tengah market yang Strong Bullish. Jika anda memiliki TRADING PLAN yang jelas dan disiplin menjalankannya, maka CONSISTENCY WILL CREATE PROFIT! Have a nice TRADE in this Bullish Market. Lakukan pekerjaan rumah anda: buatlah trading plan. Niscaya keuntungan akan terus menghampiri anda:)

Silahkan baca ulasan lengkap di bawah ini:

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat ekonomi, Faisal Basri, meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tidak dalam kondisi bubble. Namun sayang, kondisi ini lebih banyak dinikmati investor asing.

“Perekonomian Indonesia saat ini tumbuh secara alami dan tidak ada indikasi bubble. Kalau bubble itu perkembangan ekonominya jauh melampaui penguatan fondasi. Kalau di Indonesia tidak seperti itu,” ujar dia di sela-sela diskusi “Market Outlook Kuartal Tiga 2011” di Jakarta, Senin (18/7/2011) malam.

Ia mengatakan, investor yang ingin menempatkan dananya pada suatu negara juga akan berhati-hati. Mereka akan melihat sejauh mana pertumbuhan negara yang dituju. “Investor juga tidak bodoh untuk menempatkan dananya. Kondisi yang terjadi saat ini, Indonesia mempunyai pertumbuhan yang positif,” katanya.

Ditambahkan, masuknya dana asing saat ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang baik. Salah satunya dapat dilihat dari pertumbuhan pasar modal. “Jadi, kalau saya punya uang, lebih baik saya menempatkan dana semuanya pada saham. Pada negara yang positif pertumbuhannya, ditinggal tidur saja saham akan naik,” kata dia.

Namun, kata dia, sangat disayangkan bahwa positifnya pasar modal Indonesia saat ini, sebanyak 70 persen dinikmati pelaku asing. “Masalahnya adalah penikmat-penikmat membaiknya saham di Indonesia, 70 persen adalah orang asing karena investor domestiknya ditakut-takuti isu bubble,” ujar dia.

Ia menambahkan, besaran pendapatan per kapita masyarakat Indonesia yang di atas 3.000 dollar AS juga merefleksikan kemajuan pembangunan suatu negara. Dalam empat tahun ke depan, lanjut dia, ekonomi Indonesia masih akan terus tumbuh. Diprediksi pula bahwa total dana asing yang masuk (capital inflow) hingga akhir tahun 2011 dapat mencapai 25 miliar dollar AS sehingga dapat menambah devisa negara.

“Empat tahun ke depan ekonomi Indonesia akan terus ekspansi. Total capital inflow bisa mencapai 25 miliar dollar AS sehingga dapat membuat devisa kita bertambah,” kata pengamat dari Universitas Indonesia itu.

Ia menambahkan, kuatnya cadangan devisa dalam negeri akan menopang stabilitas kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar. “Derasnya capital inflow akan membuat cadangan devisa kita kuat. Dengan demikian, hal itu akan membuat penguatan rupiah terhadap dollar AS,” ucapnya.

Pin It on Pinterest

Share This